thumbnail Tak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan kesenian ini. Menurut Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Bandung, kesenian ini diperkirakan sudah mulai muncul sejak tahun 1812 ketika masa penjajahan Belanda di Indonesia. Saat itu meskipun secara politis wilayah Subang dalam kekuasaan Belanda namun secara ekonomi Subang di kuasai oleh Inggris melalui perusahaan perkebunan P & T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden) yang menguasai hampir seluruh wilayah Subang. Saat itu masyarakat Subang mendapat tekanan secara politik, ekonomi sosial dan budaya dari pihak Belanda maupun Inggris. Untuk melakukan perlawanan, mereka tidak hanya melakukannya secara fisik tetapi juga melalui bentuk kesenian Sisingaan. Kesenian ini merupakan bentuk ungkapan rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan, atau upaya pemberontakan dari masyarakat Subang kepada pihak penjajah. Secara filosofis para pengusung Sisingaan melambangkan masyarakat pribumi yang tertindas / terjajah. Sepasang patung Sisingaan melambangkan penjajah Inggris dan Belanda. Nayaga melambangkan masyarakat yang berjuang dan memberi semangat kepada generasi muda untuk dapat megusir penjajah dari daerah mereka. Sedangkan anak kecil penunggang singa melambangkan generasi muda yang suatu saat bisa mengusir penjajah. Anak kecil penunggang Sisingaan yang biasanya menjambak rambut Sisingaan merupakan salah bentuk ekspresi kebencian kepada kaum penjajah. Dengan menggunakan simbol - simbol dalam Sisingaan tersebut masyarakat Subang bisa mengekspresikan perasaan mereka secara terselubung tanpa di curigai oleh para penjajah. Bahkan para penjajah malah merasa bangga karena lambang negara mereka (singa) dijadikan sebagai bentuk kesenian rakyat. Padahal kesenian itu merupakan simbol perlawanan terhadap mereka. Pada zaman dahulu sisingaan dibuat dengan sangat sederhana, bagian kepala sisingaan terbuat dari kayu, rambut terbuat dari bunga atau daun kaso dan daun pinus. Sedangkan badan sisingaan terbuat dari carangka (anyaman bambu) yang besar dan ditutupi dengan karung karung goni atau terbuat dari kayu yang masih utuh atau kayu gelondongan. Untuk usungan sisingaan terbuat dari bambu untuk bisa dipikul oleh 4 orang. Saat ini bentuk sisingaan sudah dibuat semirip mungkin dengan bentuk singa asli. Waditra pada masa itu sangat sederhana, hanya memakai beberapa alat musik saja (seperti beberapa angklung pentatonis berlaras salendro). Sekitar tahun 1968 mulai dimasukkan unsur ketuk tilu dan silat. Hal ini dapat dilihat dari penggabungan waditra yakni adanya tambahan dua buah gendang besar (gendang indung), terompet, tiga buah ketuk, dan sebuah kulanter (gendang kecil), bende (gong kecil), serta kecrek namun kemudian berkembang seperti saat ini. Pada awalnya gerakannya para penarinya pun masih sangat sederhana dan dilakukan secara spontan. Demikian juga dengan busana yang dikenakan para penarinya. Pada mulanya para penari Sisingaan hanya mengenakan kampret, pangsi, iket seperti masyarakat umumnya. Namun sekarang baik gerakan tari maupun busana telah mengalami perkembangan tanpa meninggalkan kesan tradisionalnya. Selain itu seiring dengan perkembangan zaman fungsi Sisingaan juga semakin luas. Pada awal terbentuknya kesenian Sisingaan terbatas hanya untuk sarana hiburan pada saat khitanan seorang anak, dengan cara melakukan helaran keliling kampung. Namun pada saat ini kesenian Sisingaan mempunyai fungsi yang beragam antara lain untuk prosesi penyambutan tamu terhormat atau acara seremonial lainnya. Saat ini kesenian Sisingaan sudah sangat dikenal tidak hanya di daerah Subang saja. Di daerah sekitar kabupaten Subang pun bermunculan grup - grup seni Sisingaan. Penyebutan nama kesenian ini kadang berbeda di setiap daerah, ada yang menyebutnya odong-odong, citot, kuda depok, kuda ungkleuk, kukudaan, kuda singa atau singa depok. Masyarakat pesisir pantura Jawa Barat biasanya menyebutnya dengan Odong - odong. Kesenian ini kemudian menjadi cikal bakal odong - odong yang sangat digemari anak - anak saat ini. Odong - odong yang asalnya diusung kemudian mengalami modifikasi dengan dipasangkan pada badan becak. Hingga akhirnya bentuk Sisingaan yang dipasang pada becak justru yang dimodifikasi menjadi bentuk lain, seperti bentuk kuda-kudaan hingga bentuk komidi putar, namun tetap menggunakan istilah Odong - odong. Kabupaten Subang sebagai daerah asal Sisingaan sangat gencar mempromosikan kesenian ini. Setiap tahun di daerah ini di gelar festival Sisingaan. Bahkan pada bulan Pebruari 2012 digelar pemecahan rekor MURI Sisingaan dengan jumlah penari terbanyak. Semoga kesenian yang sarat akan makna perjuangan ini akan tetap dicintai masyarakat. (Budiana Yusuf) Sumber: http://bpsnt-bandung.blogspot.com/2012/07/sisingaan-seni-sarat-makna-perjuangan.html